19 September 2016

5 Tips Menulis Novel Sejarah



5 Tips Menulis Novel Sejarah
Yuhuu, kembali lagi dengan tips-tips keren seputar menulis novel berbagai genre nih. Kali ini kita akan membahas tentang novel sejarah. Novel sejarah merupakan tantangan menarik untuk kita yang suka melihat perkembangan dunia dari waktu ke waktu. Untuk menghasilkan novel sejarah yang bagus, dibutuhkan riset yang bisa makan waktu lama karena sumber sejarah biasanya tidak hanya terangkum dalam satu buku saja. 

Hal ini berlaku terutama untuk penggambaran detil menyangkut setting cerita, budaya, aturan yang berlaku, sampai barang-barang dan teknologi yang dipakai, memerlukan eksplorasi yang dalam. Namun membuat novel sejarah tidaklah harus sama persis dengan sejarah yang sebenarnya. Kalau menceritakan murni sejarah, itu namanya buku sejarah. Novel tetaplah novel, walaupun mengambil tokoh yang benar-benar hidup di masa itu.

Katakanlah novel Madame Mao, yang digarap apik oleh Anchee Min. Novel ini menceritakan kisah  seorang wanita, istri ambisius dari Mao Tse-tung, pemimpin komunis paling berkuasa di China pada tahun 1949-1976. Novel ini adalah sebuah fiksi sejarah dengan riset yang dalam. Anchee Min sendiri berhasil dengan sangat indah menggambarkan bagaimana situasi pada tahun tersebut ditambah konflik yang luar biasa menjadikan novel ini karya yang amazing.

Dari dalam negeri kita sendiri ada empat novel sejarah yang disebut sebagai novel terbaik dalam satra Indonesia, yaitu Arus Balik-Pramoedya Ananta Tour, Muhammad (trilogy)-Tasaro GK, Gajah Mada (lima seri) – Langit Kresna, dan Api Tauhid-Habiburrahman El Shirazy.  Novel sejarah lain yang patut diapresiasi karya penulis lokal adalah The Road to Empire karya Sinta Yudisia dan Trilogi De Winst karya Afifah Afra.

Oh ya.....promo dikit ya, novel The Secret of Room 403 karya Riawani Elyta juga mengandung muatan sejarah lho, yaitu sejarah tentang tragedi Tanjung Priok yang pernah heboh sekitar tahun 80-an namun ketika itu tidak pernah terekspos dengan detil. Pingin tahu seperti apa kilas tragedi Priok yang termuat dalam novel ini? Silakan baca aja novelnya ya. Udah edar di toko-toko buku kok. Buat pemanasan, kalian bisa baca dulu nih prolognya di sini.

Lalu timbul pertanyaan, apakah kejadian yang dialami oleh sang tokoh utama dalam kehidupan nyata sama persis dengan novel tersebut? Bisa ya, bisa tidak. Novel tetap novel, pembaca berhak memiliki persepsi sendiri namun tugas penulis adalah menyajikan sebuah keindahan dalam sebuah kisah pada suatu masa yang telah lalu.
Banyakkah peminat novel ini?
Tentu saja, Selalu ada tempat tersendiri untuk novel sejarah bahkan novel sejarah seringkali menjadi bestseller bahkan hingga tingkat dunia. Mengapa? Ada beberapa faktor yang menyebabkannya, di antaranya :

     1.      Masyarakat yang diwakili pembaca novel terkadang jenuh dengan masa yang mereka jalani saat ini. Membaca novel sejarah memberi nuansa baru dan berbeda tentang bagaimana kehidupan di masa lalu dengan segala kebijakan masyarakat di masa itu. Ini bisa memberi pencerahan terhadap kondisi sosial masyarakat yang hidup di jaman ini.

      2.      Ada rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana manusia menjalanai kehidupannya di masa yang berbeda terutama dari segi teknologi dan budaya. Membaca novel sejarah selain lebih mudah dicerna bahasanya dibandingkan membaca buku pelajaran sejarah, sekaligus memberi informasi yang berguna.
                                                                                                   
Ingin mencoba berpetualang dan berselancar di masa lalu dan menyajikannya di masa sekarang? Mari dicoba tips-tips berikut ini :
1.        Membaca lebih intensif
        Ini dia tantangan besarnya namun mengasyikkan. Informasi tentang setting novel sejarah tidak bisa kita lihat dan hanya bisa kita ketahui dari buku-buku yang memuat tentang sejarah itu sendiri. Semakin banyak buku sejarah yang kita baca, makin lengkap dan makin meyakinkanlah novel kita. Jadi ketika memutuskan menulis novel genre ini, tetap bersabar dan tidak terburu-buru.

2.        Ketika menulis novel sejarah, kita boleh saja mengangkat kisah hidup seorang tokoh yang benar-benar ada. Inilah enaknya menulis novel sejarah. Kisah, tokoh, konflik tentang suatu peristiwa sudah ada, yang berarti jalan ceritanya sudah ada, tinggal bagaimana kita mengemas cerita tersebut dengan balutan gaya bahasa ala kita ditambah polesan yang semakin menguatkan jalan cerita. Selain itu, menulis novel sejarah tentang tokoh yang sudah dikenal masyarakat membuat novel kita lebih familiar. Beda dengan novel fiktif lain yang mengharuskan kita betul-betul detil dan ekstra energi memperkenalkan tokoh-tokoh kita.

3.        Gaya bahasa yang digunakan
        Untuk menulis novel sejarah, penggunaan bahasa yang kurang sesuai kaidah EYD sebaiknya diminimalisasi. Dialog yang digunakan adalah cara berbahasa masyarakat yang hidup pada masa tertentu dimana setting novel ini dibuat, tentunya bahasa gaul ala jaman sekarang belum dikenal, jadi berhati-hatilah mempergunakan bahasa.  Jika ada bahasa daerah, jangan lupa diberikan juga artinya pada catatan kaki.

4.      Novel sejarah juga bisa memiliki catatan kaki. Catatan kaki ini biasanya memang merupakan rangkuman sejarah yang memang benar-benar dialami sang tokoh pelaku atau catatan sejarah yang terjadi. Kita bisa menambahkan catatan kaki ini jika diperlukan. 

5.      Jangan terpaku untuk menulis novel sejarah berdasarkan sejarah yang ada. Sejarah adalah catatan tentang suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sejarah bisa benar-benar fakta yang terjadi disertai bukti otentik, namun sejarah juga bisa dibuat berdasarkan persepsi orang yang berada di jaman terjadinya kejadian tersebut. Novel sejarah yang mengangkat cerita dari sejarah yang ada bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang dan persepsi terhadap peristiwa pada sejarah itu sendiri, maka bisa dikatakan membuat novel sejarah memang memerlukan riset yang lama dan dalam.

Selalu ada nilai moral dan pembelajaran berharga yang bisa kita ambil dari deretan kisah yang terjadi di masa lalu. Kita bisa menjadi bangsa yang besar karena penghargaan terhadap sejarah bangsa ini. Adanya kita di masa sekarang tidak lepas dari peran pendahulu kita di masa lampau. Maka, jadilah sejarah dengan menyuarakan kearifan sejarah lewat tulisan kita, hingga kelak anak cucu kita bisa kembali menyuarakan sejarah itu dengan kita yang menjadi tokoh utama di dalamnya.

Selamat menulis.


*******

Riawani Elyta
Risa Mutia

No comments:

Post a Comment