Ada begitu banyak genre yang bisa kita pilih ketika akan menulis sebuah karya sastra. Salah satu genre yang hingga hari ini masih banyak disukai adalah yang berdasarkan legenda, atau yang berkembang dalam suatu kebudayaan.
Ada begitu banyak genre yang bisa kita pilih ketika akan menulis sebuah karya sastra. Salah satu genre yang hingga hari ini masih banyak disukai adalah yang berdasarkan legenda, atau yang berkembang dalam suatu kebudayaan.
Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana menciptakan tokoh antagonis yang sulit dilupakan. Maka pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana menciptakan lawan yang tangguh bagi tokoh antagonis kita. Yakni tokoh yang menjadi pusat perhatian, tokoh sentral dalam cerita kita.
Kehadiran tokoh antagonis dalam sebuah cerita memberikan warna tersendiri yang membuat cerita menjadi seru. Tentu saja ada cerita yang tidak menghadirkan tokoh antagonis. Tetapi, kehadiran tokoh ini akan memberikan sentuhan yang istimewa, mendukung karakter utama dan saat berhasil melekat dalam ingatan pembaca, akan menjadi sebuah poin tersendiri.
Saat kita menulis novel, maka kita tak bisa melepaskan satu unsur penting yang menjadi “jiwa” dari novel. Unsur tersebut adalah konflik. Tanpa adanya konflik, maka adegan, dialog dan jalan cerita serasa tidak punya nyawa. Konflik dan penyelesaianlah yang menjadikan sebuah cerita menjadi hidup dan nyata.
Maycomb adalah sebuah kota tua yang kelelahan saat pertama kali aku mengenalnya. Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur merah; semak tumbuh di trotoar, gedung pengadilan melesak di alun-alun.